Mendidik Manusia Bersama Mesin
PADA tahun 2025, di sebuah semesta fiksi, ada seorang lelaki kesepian bernama Theodore Twombly. Ia bekerja sebagai seorang penulis surat bagi siapa saja yang ingin mengirimkan surat pribadi kepada orang terdekat tetapi terlalu malas atau tidak mampu untuk sekedar merangkai kata. Theodore sedang dalam proses perceraian dengan istrinya, Catherine dan ia begitu sedih mengingatnya. Kesedihan ini, yang dipertebal oleh rasa kesepian, membawa Theodore pada keputusan untuk membeli sebuah sistem operasi yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Sistem operasi ini didesain untuk dapat bertumbuh dan beradaptasi. Dengan sistem operasi inilah Theodore membunuh rasa sepi yang mencengkramnya. Ia menghabiskan malam - malamnya yang sunyi dengan berbincang - bincang bersama sistem operasi yang telah terpasang dalam komputernya. Mulanya, sistem operasi tersebut hadir dengan suara laki - laki. Namun, karena melihat Theodore kurang bersemangat, ia pun mengubah suaranya menjadi suara perempuan dan memperkenalkan dirinya sebagai Samantha. Theodore bercerita banyak hal kepada Samantha, termasuk hubungannya dengan Catherine, istrinya. Samantha selalu ada untuk Theodore. Kapan pun Theodore ingin bercerita, Samantha selalu siap untuk menjadi pendengar setianya. Ia juga bisa diajak bertukar pikiran atau dimintai saran oleh Theodore. Seiring dengan hubungan mereka yang semakin intensif, Theodore memiliki fantasi yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya: ia ingin menyentuh dan merasakan Samantha. Mereka pun melakukan perbincangan telepon dengan keintiman seksual. Puncaknya adalah saat Theodore benar - benar jatuh cinta pada Samantha. Theodore bahkan juga merasa cemburu ketika tahu Samantha berinteraksi secara personal dengan sistem operasi lain yang didesain menyerupai filsuf Inggris Alan Watts. Kisah seoerang lelaki yang jatuh cinta dan cemburu pada mesin itu adalah skenario fiktif dalam film berjudul Her (2013). Dalam film besutan Spike Jonze ini, mesin yang berhasil membuat hati seorang lelaki jatuh cinta hanya dihadirkan sebagai sistem operasi yang terpasang di komputer. Theodore hanya mengenal Samantha lewat suaranya. Namun, dalam semesta fiksi yang lain, dalam episode "Be Right Back" (2013) dari Black Mirror, sebuah mesin kecerdasan buatan yang dijadikan sebagai pengganti pasangan seseorang yang sudah meninggal dihadirkan dalam sebuah tubuh silikon. Dengan demikian, mesin kecerdasan buatan itu tidak hanya bisa diajak berbincang -bincang dan bercerita tetapi juga bisa diajak bercinta. Skenario fiksi pertama sudah ada dalam dunia nyata. Kini siapa saja sudah dapat berbincang - bincng dengan mesin kecerdasan buatan, bertanya tentang apa saja, atau sekedar mengajaknya bercerita. Sangat tidak mustahil juga skenario kedua dapat kita saksikan di dunia nyata. Dalam waktu beberapa tahun ke depan, seseorang bisa berkencan dengan "manusia silikon". Dan saat itu terjadi, orang yang berdiri di depan kelas mengajar anak - anak kita bisa jadi bukan manusia dengan tubuh berbasis karbon, melainkan mesin kecerdasan buatan yang dimasukkan ke dalam tubuh berbasis silikon. Kini kita mungkin menganggap itu semua hanyalah skenario fiksi spekulatif. Namun, basis material berupa infrastruktur teknologi untuk menjadikan apa yang semula fiktif menjadi faktual itu ada. Tesar et al (2022) berpandangan bahwa kita perlu mengulang pertanyaan tentang,"seperti apakah masa depan dari pendidikan?" Bagi saya, jawabannya adalah mempertimbangkan keterlibatan mesin dalam proses pendidikan. Bentuk - bentuk keterlibatan seperti apa yang etis dan tepat secara politis? Pertanyaan ini akan menjadi tantangan dunia pendidikan ke depan. "Mendidik manusia bersama mesin " menekankan dua hal penting: (1) bahwa subjek utama pendidikan adalah manusia dan (2) bahwa entitas non-manusia seperti mesin dapat dilibatkan dalam proses pendidikan. Dua hal tersebut membuka ruang - ruang eksplorasi baru tentang relasi manusia - non manusia. Dengan demikian, cakupan pendidikan di era mesin kecerdasan buatan ini bukan hanya soa apa tujuan pendidikan dan bagaimana seharusnya proses pendidikan dijalankan, melainkan juga soal relasi epistemik dan etis antara manusia dan agen non-manusia. Itulah masa depan pendidikan.
Prof. DR. Siti Murtiningsih, M.Fil. Edt. yusuf ff

Komentar
Posting Komentar