Kepemimpinan tidak lahir begitu saja, tetapi proses panjang yang membentuknya
KEPEMIMPINAN sebuah organisasi tidak lahir begitu saja, tetapi melalui proses yang panjang dan berliku. Baik kondisi keluarga, ekonomi, maupun lingkungan. Kepemimpinan (bahasa Inggris: leadership) merupakan sebuah bidang riset dan juga suatu keterampilan praktis yang mencakup kemampuan seseorang atau sebuah organisasi untuk "memimpin" atau membimbing orang lain, tim, atau seluruh organisasi. Literatur para spesialis saling beradu pandangan, membandingkan antara pendekatan Timur dan Barat dalam kepemimpinan, dan juga (di Barat sendiri) antara pendekatan Amerika Serikat dengan Eropa. Civitas akademika di A.S. mengartikan kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang di dalamnya seseorang dapat melibatkan bantuan dan dukungan selainnya dalam usaha mencapai suatu tugas bersama. Kepemimpinan berasal dari kata pimpin, mempunyai awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan sifat yang dimiliki oleh pemimpin itu. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina, atau mengatur, menuntun, dan juga menunjukkan ataupun memengaruhi. Menurut Dubin dalam Fieldler dan Chemers (1974), kepemimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan pembuat keputusan.Kajian tentang kepemimpinan telah menghasilkan berbagai teori yang meliputi sifat-sifat,interaksi situasional, fungsi, perilaku, kekuasaan, visi dan misi, nilai-nilai, karisma, dan kecerdasan, di antaranya.Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, perajin, atau praktisi.Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.
Contoh riil adalah kepemimpinan Lee Kuan Yew di Singapura yang lahir pada tanggal 16 September 1923, dari pasangan Lee Chin Koon, seorang warga Singapura kelahiran Semarang, dan Chua Jim Neo. Ia bersekolah di SD Telok Kurau, Raffles Institution dan Raffles College. Kuliahnya tertunda akibat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang di Singapura pada 1942–1945. Pada masa itu, ia menjual Stikfas, sejenis lem yang dibuat dari tapioka, di pasar gelap. Lee yang sejak 1942 mengambil mata pelajaran bahasa Mandarin dan bahasa Jepang bekerja sebagai penulis laporan kilat Sekutu bagi Jepang serta menjadi editor bahasa Inggris untuk koran Jepang Hobudu (alat propaganda) dari 1943–1944.Setelah perang berakhir, Lee mengambil jurusan hukum di Fitzwilliam College, Inggris. Di sana, ia terpapar ide-ide sosialis dan nasionalis anti-kolonial. Kemudian setelah lulus, ia kembali ke Singapura pada 1949 untuk bekerja sebagai pengacara di biro Laycock & Ong. Pada 1954, Lee bersama sekelompok rekan kelas menengah yang berpendidikan di Inggris membentuk Partai Aksi Rakyat (PAP) untuk mendorong berdirinya pemerintahan Singapura yang berdaulat sehingga kolonialisme Britania Raya dapat berakhir. Lima tahun kemudian, pada 1959, Lee terpilih sebagai Perdana Menteri pertama Singapura, menggantikan mantan Kepala Menteri Singapura, David Saul Marshall. Lee kembali terpilih menjadi PM untuk ketujuh kalinya berturut-turut dalam kondisi Singapura yang bercondong kepada demokrasi terbatas (1963, 1968, 1972, 1976, 1980, 1984 dan 1988), hingga pengunduran dirinya pada November 1990 kemudian menjabat sebagai Menteri Senior pada kabinet Goh Chok Tong. Pada Agustus 2004, tatkala Goh mundur dan digantikan oleh anak Lee, Lee Hsien Loong, Goh menjabat sebagai Menteri Senior, dan Lee Kuan Yew menjabat posisi baru, yakni Menteri Mentor.
Lee Kuan Yew merupakan sosok pribadi yang peduli terhadap rakyat Singapura. Singapura yang awalnya merupakan negara kecil, kumuh tidak memiliki sumber daya alam dibawah kepemimpinan Lee Kuan Yew kini berubah menjadi raksasa ekonomi dikawasan Asia Tenggara dengan berbagai capaian kemajuan yang diperoleh. Bahkan dalam segi kebersihan negara merlion tersebut memberikan pajak yang tinggi bagi siapapun yang membuang sampah sembarangan. Singapura kini tidak dapat dipandang sebelah mata bagi percaturan ekonomi kawasan. Berkat kepemimpinan tangan dingin Lee Kuan Yew. Bahkan negara sebesar Tiongkok pun meniru keberhasilan Singapura dalam mengelola sebuah negara. Kita berharap negara kita dapat mencontoh Singapura dalam berbagai hal yang positif mulai dari kedisiplinan, hukum yang pasti dan tidak memihak serta kredibilitas dan integritas kepemimpinan. Semua dapat terwujud apabila kita memiliki keyakinan bersama untuk mewujudkannya. Kerja keras, kedisiplinan dan teguh pada pendirian menjadi kunci sukses kepemimpinan. Penulis: yusuf ff
Komentar
Posting Komentar